Javan Rhino Expedition

Javan Rhino Expedition adalah sebuah proyek gagasan para pemuda dan pemudi konservasionis Indonesia, salah satunya adalah David Herman Jaya yang merupakan seorang alumni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara.

Bertepatan dengan Hari Badak Sedunia yang jatuh pada 22 September 2020, Tim Javan Rhino Expedition secara resmi meluncurkan sebuah buku berjudul “Javan Rhino Expedition-Surviving in Silence”. Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita tim Javan Rhino Expedition dalam mengkampanyekan konservasi dari Badak Jawa di Indonesia.

cover buku javan rhino expedition image

Tujuan Javan Rhino Expedition

Javan Rhino Expedition dibentuk dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat khususnya masyarakat perkotaan tentang jejak kehidupan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, dan menampilkan adat istiadat masyarakat setempat yang juga mendukung Badak Jawa dan upaya konservasi alam.

Javan Rhino Expedition David Herman Jaya
Javan Rhino Expedition David Herman Jaya

Kisah-kisah inspiratif tokoh-tokoh di balik konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon juga terekam dalam ekspedisi ini. Mereka adalah orang-orang yang harus mendapatkan apresiasi dan pengakuan atas perjuangan mereka dalam melestarikan spesies ikonik dan habitatnya ini.

Apa Kabar Badak Jawa?

Seluruh cerita-cerita menarik ini terekam dalam buku Javan Rhino Expedition-Surviving in Silence yang secara resmi diluncurkan dalam kegiatan webinar Apa Kabar Badak Jawa?.

Kegiatan webinar diselenggarakan melalui platform zoom dan dibuka pada pukul 14.00 oleh Nur Arinta selaku moderator. Kegiatan diskusi dibuka dengan penjelasan oleh Ir. Anggodo, M.M yang menjabat sebagai Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengenai upaya-upaya konservasi yang selama ini telah dilakukan oleh Taman Nasional Ujung Kulon terkait pelestarian Badak Jawa yang juga melibatkan peran masyarakat sekitar Taman Nasional.

Menurutnya, upaya-upaya tersebut akan terus dipertahankan dan diperketat mengingat pada bulan Mei dan Juni lalu telah lahir 2 anak Badak Jawa baru di Taman Nasional Ujung Kulon. Dengan memantau aktivitas-aktivitas dari Badak Jawa ini melalui camera trap yang dipasang per 2 kilometer di Taman Nasional Ujung Kulon ini diharapkan mampu untuk menjadi salah satu upaya dalam menjaga pelestarian Badak Jawa.

Untuk mengidentifikasi tiap individu Badak Jawa yang ada di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon ini. Menurut Asep Yayus Firdaus sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, dapat dilakukan dengan dengan pengolahan data monitoring melalui klip dari camera trap yang dipasang dengan memilah klip. Kemudian mengidentifikasi tiap individu Badak dan melakukan analisis dan pemetaan dengan ciri-ciri morfologi tiap Badak.

Berikutnya, David Herman Jaya menjelaskan lebih lanjut mengenai proyek Javan Rhino Expedition dalam upayanya menyadarkan masyarakat akan pentingnya pelestarian Badak Jawa.

Perjalanan ekspedisi ini dapat dinikmati seluruhnya dalam buku yang diluncurkan hari ini, dengan berbagai chapter seperti Find the Legend, Ways, Time Sensitive, The Myth, The Huntsman,The Mestika, Unseen Assassin, dan diakhiri dengan chapter Hopes.

Selain peluncuran buku, rencananya pada hari ini juga akan dilaksanakan Pameran Karya Fotografi dan juga Seni Rupa yang melibatkan seniman-seniman Indonesia termasuk 2 dosen dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara, namun kegiatan pameran ini belum bisa dilaksanakan mengingat kondisi dan situasi Jakarta yang masih dalam status PSBB (Pembatasan Sosial Besar Berkala) dan rencananya akan diundur sampai dengan akhir tahun nanti.

Kegiatan webinar kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator dan diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh media.

Pesan Kepala Balai TN Ujung Kulon

Dikutip dari situs Mongabai.Co.Id, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Anggodo, dalam kata pengantarnya menyatakan, telah banyak penelitian dilakukan terkait konservasi dan kelestarian badak jawa di Ujung Kulon. Akan tetapi, penyajiannya yang sulit belum mampu menarik perhatian masyarakat luas.

“Sangat penting memperkenalkan keragaman hayati serta budaya masyarakat di sekitar taman nasional melalui foto-foto yang menarik.”

Ya, Ujung Kulon merupakan inspirasi. Para saintis, pegiat lingkungan, pecinta satwa dan alam, serta pemerintah bahu membahu menyelamatkan satwa eksostis di sini.

“Badak di Ujung Kulon adalah harapan kita, harapan dunia. Simbol kekuatan untuk tetap bertahan di tengah perubahan yang terus terjadi,” tutur Ridzki R. Sigit, Program Manajer Mongabay Indonesia.

Sunarto, ekolog satwa Indonesia, turut memberikan petuah. “Badak jawa adalah sumber pengetahuan. Kebanggaan dan kesadaran masyarakat untuk mendukung upaya pelestarian badak jawa adalah hal penting.”